Wednesday, 3 December 2008

Sinopsis: Moga Bunda Disayang Allah

Sinopsis:

Moga Bunda Disayang Allah (Tere-Liye)

                Buku ini bercerita tentang Melati, seorang gadis kecil berusia 6 tahun yang buta dan tuli, yang berarti otomatis bisu. Buku juga ini juga bercerita tentang Karang, seorang pemuda yang memiliki masa lalu yang kelam. Kisah ini beralur campuran. Buku ini berawal ketika Bunda HK, ibunya Melati, bermimpi dibangunkan anaknya. Diceritakan pula betapa menggemaskan Melati ketika ia membangunkan ibunya. Akan tetapi, entah mengapa, Bunda HK malah menangis. Ternyata, ini semua hanyalah mimpi. Ketika Bunda HK terbangun, dilihatnya putrinya sedang marah-marah lagi. Bersamaan dengan itu, di salah satu rumah di pojokkan kota, Karang tertidur lagi. Ibu-ibu gendut itu hanya bisa mengelus-elus dada. Selalu begitu sejak 3 tahun lalu. Karang pergi keluar rumah malam-malam, pergi ke bar untuk minum-minum, pulang                 pagi, terus tidur sampai malam lagi. Namun, yang ibu ibu gendut itu tidak tahu adalah mimpi yang dialami oleh Karang. Hampir disetiap tidurnya Karang bermimpi sesuatu yang sama. Ia bermimpi tentang kejadian 3 tahun yang lalu. Kejadian yang membuatnya nyaris dipenjara. Dulu, Karang adalah anak jalanan yang dipungut oleh ibu-ibu gendut itu. Bertahun-tahun kemudian, Karang mendirikan sebuah taman bacaan. suatu ketika, Karang mengajak anak-anak asuhan taman bacaan itu berlayar. Yang Karang tidak tahu, badai hampir datang. Ketika mereka hampir pulang, badai menghantam. Dari 30 anak yang pergi, hanya 12 anak yang selamat. Salah seorang anak yang tidak selamat adalah Qintan. Qintan dulunya adalah seorang anak yang lumpuh dari pinggang ke bawah. Namun, karena cerita dari Karang, tumbuhlah keinginan yang amat sangat dalam diri Qintan. Membuatnya bisa berdiri dan berlari tanpa bantuan dari tongkat. Bersamaan dengan kejadian tenggelamnya kapal itu, keluarga HK (keluarganya Melati) sedang berlibur di sebuah pantai. Ketika sedang bermain, Melati terkena lemparan freesbe di keningnya. Awalnya sih, Melati hanya jatuh terduduk. Namun, sepulangnya mereka dari pantai itu, Melati mulai menunjukkan gejala aneh. Setelah diperiksa dokter, ketahuanlah Melati buta dan tuli. Selama tiga tahun, keluarga HK telah memanggil bermacam-macam dokter. Namun, tak ada yang bisa menyembuhkan Melati. Tim dokter terakhir malah mengatakan Melati gila, karena Melati telah menggigit jari salah satu dokter hingga jari dokter itu nyaris putus. Putus asa, Bunda HK akhirnya terkena demam dan memanggil dokter pribadi keluarga tersebut. Setelah beberapa lama, datanglah seorang dokter. Ternyata, dokter Ryan, dokter pribadi keluarga tersebut, sedang berpergian. Yang datang ke rumah keluarga HK adalah Kinasih, anak dari dokter Ryan yang juga baru saja menyelesaikan kuliah dikejurusan kedokteran. Setelah mengetahui keadaan Melati, Kinasih teringat temannya yang mendirikan taman bacaan bersamanya bertahun-tahun yang lalu. Setahu Kinasih, temannya itu berada di kota ini. Beberapa hari kemudian, Karang menerima surat dari keluarga HK. Namun, Karang enggan membukanya. Karang membiarkan surat itu menumpuk, sehingga Bunda HK akhirnya datang ke rumah Karang. Karena Bunda HK hanya mengetahui tentang Karang dari Kinasih, sementara Kinasih sendiri tidak tahu keadaan terakhir Karang, Bunda HK sangat terkejut dengan keadaan Karang. Awalnya sih, Bunda HK menjadi pesimis dalam menghadapi Karang, namun, keinginan seorang ibu agar anaknya kembali normal mengalahkan semua itu. Walaupun telah diajak oleh Bunda HK, Karang tetap menolak. Namun, malam itu, ketika Karang ingin pergi ke bar tempat ia biasa mabuk-mabukan, ia melihat dua orang pengemis tua yang di curi oleh sekelompok anak jalanan. Ketika Karang hendak membantu kedua orang pengemis itu, Karang terkejut. Karena, kedua orang tersebut memiliki cacat. Yang pertama buta, sedangkan yang kedua tuli dan bisu. Karang kembali teringat keadaan Melati. Ia pun memutuskan untuk datang ke rumah keluarga HK. Keesokan harinya, Karang pergi ke rumah keluarga HK.           Ternyata, cara mengajar Karang tidak disetujui oleh Tuan HK. Karang akhirnya pergi dari rumah itu. Namun, sebelum Karang pergi, Karang mengatakan sesuatu yang mengagetkan Bunda HK lagi. Sebelumnya, Bunda HK pernah dikagetkan oleh kata-kata Karang yang ia ucapkan ketika menolak Bunda HK di rumah ibu-ibu gendut itu. Kata Karang “bahkan saat ini pasti anak ibu sedang memecahkan dua kaca jendela!”. Ketika Bunda HK pulang, dilihatnya Salamah dan 8 pembantu pribadi keluarga HK lainnya, sedang membersihkan sisa-sisa dari dua kaca jendela yang dihancurkan Melati. Sekarang, Karang menceritakan secara detail kejadian yang menyebabkan Melati cacat. Padahal, kejadian itu hanya diketahui oleh keluarga HK dan para pembantu mereka. Akhirnya Karang diterima oleh Tuan HK. Selama lima hari Karang  berusaha mengajarkan Melati satu hal: memakai sendok. Namun, dihari kelima, Salamah iseng-iseng membereskan kamar Karang. Padahal dulu Karang telah melarang siapapun untuk memasuki kamarnya. Karena, Karang sebetulnya masih mabuk. Hal itu diketahui Salamah, yang memberitahu Tuan HK. Akhirnya Tuan HK mengusir Karang. Awalnya, Karang memohon-mohon untuk dibiarkan tinggal, bahkan sampai berjanji tidak akan mabuk lagi. Namun, Tuan HK tetap mengusir Karang. Karena ada urusan, Tuan HK pergi ke perusahaannya dan terpaksa pergi ke Jerman. Setelah Tuan HK pergi, Karang dipanggil oleh Bunda HK, karena Melati tiba-tiba makan menggunakan sendok. Selama Tuan HK pergi, yaitu selama tiga minggu, Karang berusaha  mengajarkan Melati apapun. Selama dua minggu dan lima hari, atau dua hari sebelum Tuan HK pulang, Karang hanya bisa mengajarkan Melati untuk makan sambil duduk. Karang hampir putus asa untuk mencari cara untuk mengajarkan Melati: benda apa itu. Karena Melati tidak memiliki akses untuk mengetahui. Anak lain bisa diajar dengan menggunakan kata-kata, karena mereka bisa mendengar. Mereka juga bisa diajarkan dengan gambar, karena mereka bisa melihat. Kalau mereka tidak mengerti, mereka bisa bertanya, karena mereka bisa bicara. Tapi Melati tidak bisa melihat, mendengar, ataupun bicara. Bahkan Karang telah mencoba merangsang Melati dengan api. Keesokkan harinya, ketika Karang sarapan, tiba-tiba datanglah Tuan HK. Karena Bunda HK tidak memberitahu Tuan HK tentang kemajuan Melati, Tuan HK marah karena masih ada Karang di rumah tersebut. Dalam keramaian, Melati yang terlupakan keluar rumah. Ketika semua orang tersadar, Melati sedang bermain air di luar rumah karena saat itu sedang hujan. Disaat itulah syaraf Melati terangsang. Sejak saat itu, Karang tidak kesulitan untuk memberitahu Melati tentang apapun dengan cara ‘menulis’ di telapak tangan melati. Beberapa minggu kemudian, Karang memutuskan untuk kembali ke ibukota untuk meneruskan usahanya dalam hal taman bacaan bersama Kinasih

 

Tokoh Dan Watak:

1.       Melati memiliki watak pemarah Qintan memiliki watak penuh rasa ingin tahu

2.       Tuan HK memiliki watak pemarah.

3.       Bunda HK memiliki watak rajin

4.       Salamah memiliki watak panikan, terobsesi kompeni (pasukan penjajah).

5.       Ibu-ibu gendut memiliki watak keibuan

6.       Kinasih memiliki watak tekun

 

Tokoh Favorit: Karang

Alasan: karena saya sendiri sebetulnya cukup menyukai anak-anak. Selain itu saya juga kagum terhadap keberhasilan Karang dalam melepaskan diri dari kungkungan masa lalu

 

Apabila saya menjadi Tuan HK, untuk menjadi lebih baik, saya akan berusaha untuk menekan kemarahan saya dan berusaha mencari sisi baik dari hal-hal buruk yang saya temukan.

 

Kesan & Pesan:

Novel ini sangat bagus untuk menjadi inspirasi, namun, sayangnya, novel ini memakai alur cerita yang cukup membingungkan, membuat buku ini susah dibuat sinopsisnya

 

M Thariq Ziyad

Au[7]o[b]ots

SMP Labsky

Jakarta, 31 Oktober 2008

 

2 comments:

puspittshop said...

Aku pertama kali tau buku ini di Gramed, tapi cuma lihat sekilas saja, gak beli juga :D
Trus pas ngenet, aku dapat ebooknya buku ini, seneng banget, tapi belum sempat membacanya cz sibuk, hehee...
Penasaran pengen tau sinopsisnya, akhirnya aku googling & nemu blog ini. Setelah tak baca2 kok ceritanya hampir sama seperti ceira Hellen Keller ya ? :)
Oya, salam Kenal :)

sheila sausan said...

cerita ini kan memang mengambil kisah dari Hellen Keller. jadi benar kalau hampir sama seperti cerita hidupnya Hellen Keller.. :)